Erick Thohir Terjerumus Kepentingan Politik Saat Pimpin PSSI

JAKARTA, jurnal-idn.com – Sepakbola Indonesia yang dikomandoi Erick Thohir (ET) terjerumus ke dalam kepentingan politik di negeri ini, karena bolalah yang gampang dijadikan alat untuk mendapat dukungan dari masyarakat bola yang dimanfaatkan oleh penguasa sekarang maupun para capres di Pilpres 2024. Demikian ditegaskan pengamat olahraga Indonesia, Hifni Hasan, Kamis (1/2/2024).

“Harusnya tanggung jawab PSSI adalah menjadikan organisasi tersebut berprestasi di tingkat regional dan international dengan membenahi kompetisi dan Tata kelola organisasi PSSI dengan merumuskan Tata kelola liga dengan standar FIFA. Ada liga 1, 2, 3 dan liga U-17 dengan konsisten dan meningkatkan mutu pelatih nasional dengan sertivikasi FIFA,” ujarnya.

PSSI lanjutnya hanya puas dengan apa yang dijalankan Shin Tae-yong (STY) dari Korea Selatan. Padahal STY sudah 4 tahun melatih tim nasional (timnas) yang hanya bisa mengalahkan Vietnam yang ditinggalkan pelatih nasional Vietnam yang berkarakter. Itupun karena kabarnya Vietnam ditinggalkan pemain-pemain terbaiknya.

“Dan juga 80% timnas kita diisi oleh naturalisasi. Berarti gagalnya kita disebabkan liga kita tidak menghasilkan pesepakbola handal yang siap untuk bertanding di international dan wajib bagi PSSI untuk menata ulang liga yang sekarang berlangsung,” paparnya.

“Titik Nol”

“Jika PSSI tidak lagi disokong oleh inpres dan BUMN akan kembali ke titik nol dan bisa-bisa akan terjun bebas,” tambah Hifni.

Dia berharap PSSI harus dirombak total pengurusnya yang harusnya diisi oleh pengurus yang berkompeten bukan pengurus yang cari makan di PSSI.

Apa yang disuarakan pelatih Thailand dapat dicontoh PSSI dan PT Liga. Thailand negara yang paling sukses di Asia Tenggara dan liganya terbaik di Asean masih juga dituntut untuk dilakukan perombakan dan perbaikan FA dan Liganya.

Indonesian juga harus segera melakukan revolution Tata kelola PSSI dan PT L5iga demi kesuksesan sepakbola Indonesia karena atlet harus didesain untuk menjadi atlet yang handal dari pembinaan, bukan instan dengan menggunakan pemain naturalisasi untuk menjadi pesepakbola.

Anto

Erick Thohir dengan pelatih dari Korea Selatan Shin Tae-yong. Foto: Humas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *