‘Ogoh-Ogoh dan Cawe-Cawe’

Jurnal-idn.com – Kedua kata tersebut ada dalam bahasa Jawa. Ogoh-ogoh dalam bahasa Jawa artinya obok-obok. Kalau cawe-cawe artinya ikut-ikutan. Sebetulnya kedua kata itu memiliki kemiripan. Artinya sama-sama intervensi.

Ogoh-ogoh itu sifatnya provokatif. Ikut-ikutan tapi tidak sampai masuk ke dalam. Hanya bermain di tubir, di lerengnya. Hanya di luar-luaran. Hanya keceh di bibir pantai dan sesekali bermain ombak tapi tidak sampai berenang ke dalam.

Berbeda dengan cawe-cawe. Cawe-cawe itu terlibat langsung, turut serta dalam permainan. Sudah masuk ke dalam. Walaupun tidak memiliki kartu peserta atau kewenangan untuk masuk.

Menurut saya ogoh-ogoh itu memiliki derajat yang lebih tolerantif. Sebab permainan tetap berjalan sesuatu aturan, keputusan-keputusan formil tetap jalan. Ogoh-ogoh itu dilakukan oleh klik. Provokasi dari para klik. Elit dan tidak membuat sistem, struktur berubah signifikan.

Terjun Langsung

Lain halnya dengan cawe-cawe. Artinya terjun langsung. Seperti misalnya kalau dalam satu acara hajatan ikut nyinom, ikut meracik dan menyajikan makanan dan minuman. Memasak airnya, mengaduk tehnya. Jika diibaratkan satu permainan sudah termasuk sebagai upaya mempermainkan permainan.

Resikonya, buat para pengogoh-ogoh atau mereka yang mencoba memprovokasi dan bermain-main di tubir itu resikonya relatif rendah. Mungkin hanya mendapat teguran hakim garis, bentakan sekuriti, atau makian penonton.

Tapi kalau sudah cawe-cawe itu lain. Dia masuk di dalam. Terlibat. Datang langsung mengubah permainan di dalam. Mengacaukan permainan dan pengaruhi formasi-formasi dan strategi. Mengatur-atur permainan. Mempengaruhi perumus aturan dan bahkan merekayasa agar sesuai selera. Membentak panitia, menghardik hakim garis, wasit.

Mereka yang mempermainkan permainan itu layak jadi mainan. Saya kira pantas untuk mendapat sanksi sesuai prosedur legal formal. Kalau tidak maka saya yakin kekecewaan penonton akan membuat satu gerakan masa yang semakin membesar dan menjadi manuver besar. Menjadi pukulan besar kelak.

Jakarta, 11 Maret 2024

Suroto

Suroto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *