Program Pendampingan KemenKopUKM, Agar Usaha Mikro Terarah dan Terukur

JAKARTA, jurnal-idn.com – Bergulirnya program Pendampingan Usaha Mikro Mandiri 2023 yang dijalankan Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) ternyata berdampak cukup signifikan bagi pelaku usaha mikro di Kota Cirebon, Jawa Barat, dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas usahanya.

“Banyak manfaatnya bagi saya, terutama mengubah pola pikir menjalankan usaha. Yang semula asal usaha, sekarang jadi lebih terarah dan terukur,” kata Dani Maulana, pelaku dan pemilik usaha kerupuk kulit dari bahan ikan patin dengan merek Ngedani, usai mengikuti Pendampingan Usaha Tatap Muka Mikro Mandiri 2023 di Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, Perdagangan dan Perindustrian Kota Cirebon.

Manfaat lainnya, dirinya semakin dituntut untuk lebih disiplin dalam hal manajemen usaha, sehingga ada perkuatan produksi dan penjualan. “Kita jadi belajar manajemen usaha yang baik, dengan memisahkan antara keuangan usaha dengan keluarga,” ujar Dani.

Bagi dia, program Pendampingan Usaha Mikro Mandiri KemenKopUKM juga mempertemukan dirinya dengan banyak stakeholder yang potensial memajukan usahanya.

“Di acara ini saya bertemu dengan banyak pihak misalnya dari Sucofindo. Di produk saya baru tercantum nilai kadar air, lemak dan protein, belum sampai pada nutrisi secara detail. Nah, dengan Sucofindo ini dibantu menjadi lebih lengkap keterangan produknya,” tukas Dani.

Selain dengan Sucofindo, dia juga beruntung dipertemukan dengan banyak kalangan lembaga keuangan seperti PNM dan Bank BJB. “Jadi, bila saya nanti butuh modal tambahan, sudah ada pilihan,” tegas Dani.

Dani mengaku, sebelum menjalankan usahanya ini, dirinya pernah bekerja di satu perusahaan sebagai marketing. “Karena potensinya besar, saya resign dan memutuskan untuk menjadi pengusaha kerupuk kulit ikan patin,” cerita Dani.

Memotivasi

Deputi Bidang Usaha Mikro KemenkopUKM Yulius menjabarkan bahwa tujuan utama dari program Pendampingan Usaha Mikro Mandiri 2023 ini adalah memotivasi dan meningkatkan rasa percaya diri pelaku usaha mikro dalam menjalankan usahanya.

“Nantinya, diharapkan para pelaku usaha mikro bisa naik kelas hingga menjadi pengusaha besar,” ucap Yulius.

Yulius berharap setelah mengikuti dan dianggap lulus dari program pendampingan ini, para pelaku usaha mikro bisa menjalankan bisnisnya dengan lebih baik, lebih modern dan lebih profesional. “Sehingga, kelak mereka bisa berjalan dengan lebih mandiri,” urai Yulius, Kamis (14/9/2023).

Yulius memahami, para pelaku usaha mikro memiliki banyak keterbatasan. Dari mulai kesulitan mengakses pembiayaan, memahami teknologi, hingga kemampuan bekerjasama dengan usaha besar. “Lewat program pendampingan ini, saya ingin mereka memiliki kemampuan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan itu,” Yulius mengutarakan opininya.

Ke depan, Yulius menekankan bahwa KemenkopUKM tidak hanya melakukan pelatihan-pelatihan yang sifatnya satu arah.

“Maka, kami gulirkan program pendampingan ini yang berjalan selama enam bulan. Jadi, ini bukan hanya teori saja, tapi bagaimana bisa memiliki kemampuan untuk berhubungan dengan stakeholder. Terutama dengan pengusaha besar,” turur Yulius.

Dikatakan pelaku usaha mikro bisa memiliki kemampuan menjadi suplier (pemasok) bagi usaha besar seperti industri otomotif, makanan dan minuman, dan sebagainya. “Itu tujuan utama dari program ini,” ungkap Yulius.

Mulia Ginting – Erwin Tambunan

Dani Maulana dengan produk kemasan kerupuk kulit dari bahan ikan patin dengan merek Ngedani. Foto: KemenKopUKM.

Artikel ini sudah terbit di jurnal-ina.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *