SesKemenkop: Percepatan Pembiayaan dan Digitalisasi Kunci Operasional Kopdes MP

BATAM, jurnal-idn.com – Sekretaris Kementerian Koperasi(SesKemenkop) Ahmad Zabadi menegaskan pentingnya percepatan sosialisasi terkait skema pembiayaan untuk mendukung operasionalisasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes/kel Merah Putih). Melalui pemahaman yang utuh terkait alur proses pencairan pendanaan dari Bank Himbara menjadi titik kritis dalam upaya mendukung operasionalisasi Kopdeskel Merah Putih di seluruh Indonesia.

Kepala Dinas dan Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Pembentukan Kopdeskel Merah Putih di tingkat provinsi/kabupaten/kota harus bisa menjawab semua pertanyaan atau permasalahan yang dihadapi para pengelola/ pengurus Kopdeskel Merah Putih (KDKMP) di wilayahnya, terutama terkait dengan pembiayaan. Hal ini diperlukan agar target awal Oktober 2025 seluruh KDKMP dapat mulai beroperasi.

“Ini jadi penting karena kita ingin memastikan awal Oktober 2025 sudah running, tidak lagi ada isu tentang pemahaman terkait dengan bagaimana model bisnisnya, bagaimana terkait dengan pembiayaannya dan permasalahan lainnya,” kata Ahmad Zabadi pada Rapat Koordinasi (Rakor) Regional di Ballroom I Hotel Nagoya, Batam, Jumat (19/9/2025).

Zabadi menambahkan bahwa pada fase operasionalisasi ini, KDKMP juga difokuskan pada upaya optimalisasi pemanfaatan teknologi digitalisasi melalui sistem yang telah disiapkan yaitu Simkopdes. Kemudian KDKMP juga didorong memperkuat kemitraan dengan mitra strategis agar proses operasionalisasi berjalan dengan baik dan lancar.

“Kita mendorong agar semua transaksi dapat dilakukan dengan cashless. Anggota akan mendapat kartu khusus untuk berbelanja, sehingga tidak ada lagi keraguan aparat hukum terkait pengelolaan dana,” urai Zabadi.

Terkait dengan pembiayaan bagi KDKMP, Presiden Prabowo secara khusus memberi arahan agar dukungan Bank Himbara ataupun LPDB tidak hanya berfokus pada pemenuhan modal kerja. Namun diharapkan ada dukungan pembiayaan investasi sehingga Koperasi dapat memiliki kapasitas yang lebih tinggi untuk bersaing. “Banyak koperasi desa kita tidak memiliki gudang atau gerai. Karena itu, pembiayaan investasi sangat penting agar koperasi bisa menjalankan fungsinya dengan baik,” jelasnya.

Dia berharap dari Bank penyalur pembiayaan, yaitu Himbara juga turut mempermudah alur proses pencairan setelah menerima berkas proposal bisnis yang diajukan oleh KDKMP. Dalam proses pencairannya, Bank penyalur tidak akan mencairkan pengajuan pinjaman kepada KDKMP, melainkan langsung kepada mitra bisnisnya sebagai pemasok komoditas yang akan diperjualbelikan.

Mengapresiasi

Zabadi mengapresiasi dukungan dari BRI, BNI, Mandiri dan BSI yang sudah menyatakan komitmennya untuk mempermudah pencairan pinjaman dengan petunjuk teknis yang telah ditetapkan. “Karenanya ini memang butuh akselerasi percepatan, sebab Bapak Presiden menginginkan kita untuk menuntaskan operasionalisasinya ini hingga akhir tahun. Kalau sudah pecah telur, pembiayaan berikutnya akan lebih mudah,” ujarnya.

Seskemenkop juga menyoroti agar pengurus/pengelola KDKMP fokus pada upaya mengoptimalkan keterlibatan dan peran aktif dari anggota koperasi. Hal ini sangat penting karena operasionalisasi KDKMP tidak akan berjalan maksimal dalam jangka panjang apabila anggota koperasi tidak diberdayakan.

Pengajuan pembiayaan kepada perbankan hanyalah menjadi salah satu opsi untuk memulai mengoperasikan koperasi. Opsi lain yang tidak kalah penting adalah mengoptimalkan sumber daya dari anggota untuk dapat menggali potensi pembiayaan dari iuran wajib, iuran sukarela yang dapat dikoleksi setiap bulannya. Semakin banyak masyarakat yang menjadi anggota koperasi, maka semakin besar potensi sumber pembiayaan internal yang dapat digali.

“Kalau 10.000 anggota menyetor simpanan wajib Rp25.000 per bulan, koperasi bisa menghimpun Rp250 juta tiap bulan, atau hampir Rp1,5 miliar setahun,” ungkapnya.

Zabadi mengkritisi rendahnya jumlah anggota di beberapa koperasi. Untuk itu perlu peran serta dari pemerintah daerah hingga ke tingkat desa/kelurahan untuk bersama-sama mendorong masyarakat menjadi anggota Kopdeskel Merah Putih. Menurutnya strategi paling efektif untuk menggaet lebih banyak anggota koperasi adalah dengan mengaitkan keanggotaan dengan akses ke barang bersubsidi.

“Kalau non-anggota tidak bisa belanja, maka otomatis mereka terdorong jadi anggota. Inilah strategi marketing koperasi,” papar Zabadi yang juga mengunjungi gerai Koperasi kelurahan di Patam Lestari Batam.

Erwin Tambunan

“Kita mendorong agar semua transaksi dapat dilakukan dengan cashless. Anggota akan mendapat kartu khusus untuk berbelanja, sehingga tidak ada lagi keraguan aparat hukum terkait pengelolaan dana,” urai Zabadi. Foto: Humas Kemenkop.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *